SOLUSI SEHAT DENGAN SELAC - HOLISTIK - EFEKTIF - ALAMIAH - AMAN

07 June, 2015

Jantung koroner, nyeri dada kiri menguap setelah 3x terapi


Status pasien N, laki, 51 thn, Jakarta, menderita jantung koroner pada beberapa titik di 3 saluran (arteri), 1 titik menyumbat 100%, 2 titik menyumbat 90%, 1 titik 80%, dan 2 titik 70% (berdasarkan hasil foto koroner angiogram, lihat gambar). Dokter menyarankan harus segera dilakukan tindakan bypass.


Telah dicoba dengan terapi EECP (Enchanced External Counterpulsion) sebanyak 36x (1 bulan) namun kemajuannya hanya 4 %. Kondisi fisik belum dirasakan berubah, cepat lelah, bila berjalan tidak bisa jauh/lama, terasa lelah dan nyeri di dada sebelah kiri.


Sabtu 5 April 2014, jam 09.11 yang bersangkutan saya periksa secara kualitatif dengan quantum magnetic resonance analyzer, Coronary Artery Elasticity- nya memang rendah, artinya terjadi penyumbatan serius di arteri koroner . Untuk menanggulangi kasus jantung koroner tersebut direncanakan 3x terapi, dengan jeda waktu 2 jam untuk setiap kali terapi. Terapi pertama dilakukan totok setrum elektrostatik dengan jari pada seluruh jalur organ (jari kaki dan tangan), selanjutnya didaerah dada untuk sirkulasi jantung. Terapi selesai dalam 15 menit. Selanjutnya diberikan asupan herbal pembakar lemak dan sirkulasi jantung. Dua jam kemudian, kembali dilakukan terapi yang sama seperti diatas, yaitu terapi yang kedua. Setelah terapi kedua selesai, pasien diminta untuk melakukan aktifitas jalan kaki untuk mengetahui kondisi fisik yang bersangkutan.


Sebelum melakukan terapi yang ketiga, pasien memberikan laporan bahwa setelah jalan kaki selama 7 menit, masih terasa letih dan dada kiri terasa nyeri. Oleh karena itu pada terapi ketiga dimulai terapi kombinasi dengan menggunakan alat “nanocurrent pen” untuk titik ginjal di tapak kaki, dan beberapa titik diarea dada/jantung. Terapi ketiga selesai dalam waktu 12 menit, dan pasien saya anjurkan untuk mencoba naik-turun tangga (3 lantai) untuk mengetahui pengaruh hasil terapi terhadap fisik. Setelah dicoba oleh pasien untuk naik-turun tangga, tidak terasa letih dan tidak terasa lagi nyeri di dada kiri, hanya jantung berdebar-debar. Alhamdulillah, ada perbaikan pada arteri koroner karena rasa nyeri di dada kiri sudah tidak dirasakan.



Minggu 6 April 2014, jam 09.54 yang bersangkutan saya periksa kembali secara kualitatif dengan quantum magnetic resonance analyzer, Coronary Artery Elasticity- nya ada kemajuan 15 poin, dan Stroke Volume membaik (dari warna kuning, berubah jadi biru). Kemudian mulai diterapi kembali dengan rencana terapi 3x sehari. Terapi dilakukan dengan totok setrum dengan jari, dan dikombinasi menggunakan “nanocurrent pen”. Terapi tahap pertama selesai 15 menit. Setelah 2 jam, terapi kedua dilakukan dengan cara yang sama. Demikian pula terapi ketiga. Setelah terapi ketiga sang pasien mencoba naik-turun tangga (3 lantai) 3x bolak-balik, tanpa terasa letih ataupun nyeri di dada kiri, hanya jantung berdebar lebih kencang, artinya secara fisik ada perbaikan yang berarti, karena rasa nyeri di dada kiri tidak muncul. Kami amati kondisi yang bersangkutan sampai hari ini (Rabu, 9 April 2014), sang pasien tidak merasakan lagi keluhan nyeri di dada kiri, ataupun dada berdebar-debar, ataupun rasa cepat letih seperti sebelumnya.
Namun demikian progress diatas masih perlu perawatan lanjut, untuk beberapa kali terapi lagi, sampai dengan kondisi kasus jantung koroner tersebut benar-benar sudah aman alias sudah tidak beresiko lagi bagi yang bersangkutan.
Kesimpulan :
SELAC (Sinusoidal Electro Acupressure) dengan “Nanocurrent Pen” yang kami kembangkan sendiri memberikan prospek yang sangat berarti untuk solusi penderita jantung koroner, hanya dalam waktu relatif cepat, singkat, rasa nyeri di dada kiri bisa diatasi (hanya dalam sehari). Walaupun masih perlu konfirmasi pemeriksaan foto koroner angiogram untuk mengetahui sampai seberapa jauh kondisi koroner pasien bisa terbantu, namun prestasi terapi ini sangat menjanjikan bagi penderita jantung koroner, sebelum memutuskan untuk pasang ring atau bypass. Sangat efektif, cepat, murah, alamiah, dan aman. Insya Allah.

Kontak: Ir.Ansuska Gumanti, 022-7101921,0812 2024 270,0818 43 7557
Praktek : Bandung (Jl. Muararajeun Kulon no.22) dan Jakarta (Jl. Keselamatan I no.15, Saharjo, Tebet, Jaksel)
Bandung : Senin-Kamis (09.00 -18.00), Jum'at (08.00 - 11.00)
Jakarta : Sabtu (08.00 - 18.00), Minggu (08.00 - 16.00)




14 June, 2013

Pengobatan Gangguan Mata, Retinitis Pigmentosa

Berdasarkan pengamatan TERAPI RP di klinik kami terhadap 31 orang penderita RP (sampai dengan akhir Mei 2013). Usia 6,5 tahun sampai dengan 59 tahun (11 wanita, 20 Pria). Sebagian besar mengalami riwayat benturan di kepala. Hanya 2 orang pasien RP wanita (bersaudara), dan 1 orang pasien RP pria yang mempunyai tendensi genetika. Kebanyakan para penderita RP yang datang berobat, sebelumnya sudah berupaya kesana-kemari berobat (beberapa orang sudah pernah berobat ke Singapura dan Cina), hasil tidak memadai, bahkan penyakit berkembang terus makin serius, sehingga mengakibatkan semangat juang untuk berobatpun sebenarnya sudah menurun, apalagi di dunia kedokteran mata modern masih belum ada obatnya.
Asumsi saya sebagai penyebab kasus RP tersebut, karena terjadinya penyumbatan pada jalur (arteri, getah bening) asupan gizi (mineral,oksigen) ke sel mata, baik sel batang (rod cell) maupun sel kerucut (cone cell). Oleh karena itu secara bertahap sel mata tersebut akan rusak dan tidak berfungsi lagi sehingga mengakibatkan buta penglihatan. Dengan terjadinya penyumbatan tersebut, maka asupan obat-obatan tidak ada yang efektif untuk membantu pemulihan RP, walaupun dengan asupan vitamin A berdaya tinggi sekalipun. Oleh karena itu, salah satu langkah rasional yang ditempuh adalah membuka sumbatan-sumbatan tersebut, yaitu dengan terapi SELAC (Sinusoidal Electro Acupressure), elektro akupresur atau  totok setrum (elektrostatik), kemudian kami kombinasi dengan obat tetes mata (dari tanaman obat ki tolod, yang dibuat sendiri) hasilnya jelas, efektif, alamiah dan aman.
 
Manfaat pengobatanpun bervariasi, ada yang cepat dan ada yang lambat, tergantung kepada  kondisi RP yang bersangkutan (Stadium dini, menengah, atau akhir) dan intensifnya para penderita RP menjalani terapi. Semakin intensif atau sering menjalani terapi akan semakin banyak prospek yang akan didapat untuk perbaikan RP, karena jalur-jalur yang menyumbatpun secara bertahap akan terbuka sedikit demi sedikit , hingga lancar kembali.
Harapan pemulihan RP,  untuk stadium dini (pandangan malam sudah mulai terganggu namun masih bisa mengendarai motor/mobil pada siang hari) dan menengah (adaptasi perubahan dari terang-gelap lambat, luas pandang makin menyempit, berjalan suka menabrak) bisa mencapai 50-80 % , namun untuk stadium akhir (berjalan sudah harus dituntun, karena penglihatan sudah hampir hilang) prospek pemulihan sudah susah alias terlambat untuk dilakukan pengobatan (sudah dicoba terhadap 4 orang pasien yang masing2 menjalani 10x terapi,namun belum kelihatan perbaikan yang berarti). Disamping itu pengobatan RP ini memang butuh waktu yang cukup lama, oleh karena itu dibutuhkan kesiapan semangat dan mental serta kesabaran yang memadai untuk tidak bosan menjalani terapi.   
Agar kemajuan pengobatan RP ini terpantau jelas, maka sejak awal Januari 2013 kami gunakan Quantum Resonance Magnetic Analyzer sebagai alat bantu diagnosa kualitatif, sehingga kondisi awal mata sebelum diterapi bisa diketahui posisinya, dan kemudian setelah beberapa kali dilakukan terapi mata, perkembangan dan kemajuannyapun dapat  diketahui pula untuk dibandingkan, jadi semua akan jelas apakah pengobatan yang dilakukan tersebut efektif atau tidak.
Contoh pada gambar adalah data penderita RP stadium akhir, yang hanya bisa melihat cahaya lampu saja, dan berjalan sudah harus dituntun (hampir buta total). Perhatikan parameter abnormalnya (moderately abnormal : Collagen eye wrinkle, Dark circles, Lymphatic obstruction, Eye cell activity) untuk beberapa orang penderita RP stadium akhir parameternya hampir sama demikian.
Mulai Juni 2013 ini, kami mencoba menambah beberapa titik terapi untuk pemulihan RP, dengan harapan efektifitas terapi akan lebih baik dibandingkan hasil terapi sebelumnya.

Kesimpulan :
  • Apa bila seseorang  telah di diagnosa menderita RP oleh kedokteran mata, kami sarankan yang bersangkutan lebih baik segera disolusi dengan terapi SELAC, agar kondisi RP tidak menjadi lebih parah, karena bila lebih parah akan lebih susah memperbaikinya.
  • RP dengan stadium awal dan menengah mempunyai prospek perbaikan yang memadai bila di solusi dengan terapi SELAC, sedangkan untuk stadium akhir sampai saat ini prospeknya hampir tidak berarti.
  •  Kemajuan perbaikan terapi RP yang kami lakukan dapat diketahui dengan mudah dan cepat, cukup dengan perangkat Quantum Resonance Magnetic Analyzer,  yaitu setelah 6x terapi akan kami evaluasi
  • Mengamati kenyataan penderita RP yang pernah berobat RP ke luar negeri, maka kami sarankan  tidak perlu ke luar negeri, karena hanya akan menghabiskan tenaga, waktu, dan biaya, tanpa hasil yang memadai,  jadi untuk RP cukup di Indonesia saja, dengan SELAC, Insya Allah. 
  • MONEY BACK GUARANTEE. Untuk Gangguan Mata : RP stadium dini dan menengah, Mata minus, Glaukoma, Katarak, dan yang belum buta penglihatan. Bila tidak ada kemajuan setelah seminggu berobat dengan tiap hari diterapi mata, maka semua biaya terapi + obat (bila ada), akan dikembalikan.
  •  Alamat Terapi .
         Bandung : Jl. Muararajeun Kulon no.22, telp. 022 – 710 1921 (Senin – Kamis, 09.00-18.00,  Jum’at  08.00-11.00)
        Jakarta : Jl. Keselamatan I no.15, Saharjo, Tebet (Sabtu 08.00 – 18.00. Minggu 08.00 –14.00)

  • Kontak : Ir. Ansuska Gumanti, 0812 2024 270, 0818 43 7557, 022-707 22466,  selac@ansuska.com

26 March, 2013

ELEKTRO AKUPRESUR/TOTOK SETRUM......dan RAMUAN INDONESIA

Sinusoidal Electro Acupressure (SELAC), Elektro Akupresur atau Totok Setrum, memanfaatkan Energi Elektrostatik pada titik-titik di meridian akupunktur, kemudian disinergikan dengan asupan  Ramuan Indonesia (Jamu/Herbal) agar menghasilkan pengobatan yang optimal, efektif, alamiah dan aman (Electrical Medicine + Botanical Medicine). Terapi dilakukan dengan metoda yang holistik, dan mengobati Penyakit Kronis sebagai berikut:   
Alzheimer, Autis, Anemia, Autoimun, Cegukan, Demam, Diabetes, Edema, Empedu, Epilepsi, Flu, Ketergantungan obat, Haid (nyeri, tidak teratur), Hipertensi, Hipotensi, Ginjal (Sakit pinggang, Nepritis, Berbatu, Gagal ginjal), Gondok, Hati (Fatty lever, Hepatitis, Sirosis), Hernia,  Hidung (Rinitis, Sinusitis), Impoten, Insomnia, Jantung  (Koroner, klep jantung), Kandung kemih (susah kencing, sering kencing, infeksi, Prostat bengkak), Kegemukan, Kepala (Migren, Vertigo), Kram, Lutut (sakit/nyeri), Lumpuh, Mandul, Mata (Katarak, Glaukoma, Retinitis Pigmentosa, dll), Mimisan, Paru (Batuk, Asma, Bronchitis, Pulmonary Edema, TBC, dll), Pencernaan (Radang Lambung, Radang Usus, Sakit perut, Sembelit, Diare, Mual Muntah, Asites, Usus buntu, dll), Rahim (Endometriosis, Kista Indung telur, Keputihan, dll), Stroke, Syaraf (Terjepit, Lumpuh wajah, Parkinson, dll), Telinga ( Tinitus, ketulian), Tulang-Sendi-Otot (Fibromialgia, Gout, Arthritis, Osteoarthritis , Osteoporosis, dll), Tumor/ Kanker/ Kista /Miom.
Praktek di Bandung dan Jakarta


Mengapa terapi harus menggunakan Arus Bolak-Balik?

SELAC (Sinusoidal Electro Acupressure), Elektro Akupresur atau Totok Setrum Elektro Statik, menggunakan arus bolak-balik elektro statik melalui tubuh terapis, dengan pertimbangan sebagai berikut :

1. Hasil penelitian para pakar membuktikan bahwa arus listrik bolak-balik (AC) mempercepat penyembuhan luka, membersihkan pathogen (bakteri penyakit) dan virus (arus DC hanya bisa membunuh bakteri), lihat diwww.pranaherbal.blogspot.com “ Arus listrik mempercepat penyembuhan luka, membersihkan pathogen dan virus”  (17 Sept.2009). 

2. Para peneliti Ahli Ortopedi di Amerika, menemukan bahwa pengobatan menggunakan listrik menghasilkan pertumbuhan tulang padat alias kerapatan tulang bisa bertambah, sehingga tulang retak ataupun patah memungkinkan pulih,. Lihat di www.pranaherbal.blogspot.com “Electrical Medicine : is that to be Future medicine?” (14 Sept.2009).

3. Hasil penelitian kami, dengan terapi SELAC (aplikasi terapi arus bolak-balik), gula darah dan asam urat tinggi, turun setelah satu kali terapi.


Didukung dengan diagnosa kualitatif (tanpa ambil darah, USG, Rontgen), dalam 4 menit status seluruh tubuh dapat diketahui (teknologi resonansi magnetik pada sel-sel tubuh).









info : 0812 2024 270, selac@ansuska.com,
www.ansuska.com, www.pranaherbal.blogspot.com

17 December, 2012

Tips: Herbs for anti coronary artery plaque



To erode and destroy the coronary artery plaques gradually, in our clinic using the intake of herb leaves of “Daun Dewa” (Gynura segetum), “Jati Belanda” (Guazuma ulmifolia Lamk) and “Sambung Nyawa” (Gynura procumbens). Why is that? Leaves of Gynura segetum anti-coagulation of blood and stimulating circulation, Leaves of Guazuma ulmifolia Lamk efficacious fat burners, and Leaves of Gynura procumbens potent anti-cholesterol, anti-hypertensive, anti-diabetic, and diuretic. The composition is based on our experience effectively to address the coronary artery plaques.
Our herb base on extract process, so you can easily design a desired drug concentration or dose of medication facilitate performance. Then dried and packaged in capsules, making it easy to use as an intake, and easy for travel, and durable even without preservatives. It's just that the entire all process takes a long time (4-5 days).
How easy and simple is the way herbs are boiled (to be decoction), then drink boiled water.

Where the raw materials come from? The raw material of these ingredients can be found in Indonesian herbal spice seller in the traditional market. Before boiling should be rinsed first with water to clean of dirt, sand or dust.



Prepare as follows (all dried preparations):

  • Gynura segetum leaves, 5 grams

  • Gynura segetum tubers, 5 grams

  • Guazuma ulmifolia Leaves, 5 grams

  • Gynura procumbens leaves, 5 grams

Material on boiled with 4 cups of water, to be 2 cups of water. Then the cooking water is split into 3 sections for daily dosing (a part of morning, a part of noon, a part of evening). Should be taken on an empty stomach or 1-2 hours before meals. Use this menu every day. Within a week - 2 weeks will usually be visible improvement, but it is recommended that regular exercise, such as half an hour after taking the medication (morning) do exercise walking for 0.5 - 1 hour, then drinking more water, and avoid eating fried foods. Good luck.

Tips : Ramuan herbal anti plak arteri koroner
Untuk mengikis dan menghancurkan plak arteri coroner secara bertahap, di klinik kami menggunakan asupan ramuan Daun Dewa (Gynura segetum), Daun Jati Belanda (Guazuma ulmifolia Lamk) dan Daun Sambung nyawa (Gynura procumbens). Kenapa demikian? Daun Dewa berkhasiat anti koagulasi darah dan stimulasi sirkulasi, Daun Jati Belanda berkhasiat pembakar lemak, dan Daun Sambung Nyawa berkhasiat anti kolesterol tinggi, anti hipertensi , anti diabetes, dan diuretik. Komposisi tersebut berdasarkan pengalaman kami efektif untuk mengatasi plak arteri koroner.
Ramuan tersebut kami ekstrak untuk diambil saripatinya, agar mudah merancang konsentrasi obat yang diinginkan atau memudahkan capaian dosis obat. Kemudian dikeringkan dan dikemas dalam kapsul, sehingga mudah digunakan sebagai asupan, dan gampang untuk dibawa bepergian, serta tahan lama walaupun tanpa pengawet. Hanya saja seluruh proses pembuatannya butuh waktu cukup lama (4 – 5 hari).
Cara yang mudah dan sederhana adalah dengan cara ramuan tersebut direbus, kemudian diminum air rebusannya.Dari mana bahan baku didapat? Bahan baku ramuan tersebut bisa didapatkan pada penjual rempah-rempah jamu di pasar tradisional. Sebelum direbus harus dibilas dulu dengan air agar bersih dari tanah, pasir ataupun debu.

 
Siapkan sebagai berikut (semua sediaan kering) :

  • Daun Dewa 5 gram
  • Umbi Dewa 5 gram
  • Daun Jati Belanda 5 gram
  • Daun Sambung Nyawa 5 gram

Bahan diatas rebus dengan 4 gelas air, hingga menjadi 2 gelas air. Kemudian air rebusan tersebut dibagi menjadi 3 bagian untuk dosis sehari (sebagian pagi, sebagian siang dan sebagian malam) . Sebaiknya diminum saat perut kosong, atau 1-2 jam sebelum makan. Gunakan menu ini tiap hari. Dalam seminggu – 2 minggu biasanya akan kelihatan perbaikannya, namun disarankan agar melakukan olahraga teratur, misalnya setelah setengah jam minum obat (pagi), lakukan olah raga jalan kaki selama 0,5 – 1 jam,  banyak minum air putih, serta hindari makan gorengan-gorengan. Selamat mencoba.

Solution of Coronary Heart Disease with Alternative Medicine (SELAC)


Coronary Heart Disease

Coronary heart disease is associated with resistance occurs gradually in the coronary arteries or arterial walls are narrowed due to plaque. This case is more common than other types of heart disease.

Causes

Smoking, high cholesterol, old age, genetics, hypertension and diabetes

Symptoms
Generally, frequent pain in the left chest
Modern Medical Solutions (invasive)
Patients who present with chest pain, faster and more efficient when done for examining with  CT Scan. So easy to see the position of the clogged coronary artery and heart function.
Popular treatment as a solution is to use a stent (ring) or arterial bypass surgery. For one or two clogged arteries still fit when using the ring, but when three or more arterial blockage is no longer appropriate when using the ring, usually bypas artery surgery.
Although surgery bypas arteries and arterial dilation gives good results, but still does not eliminate the basic problem is the loss of blood vessel plaques, so the risk of clogged arteries back later on remains.
Alternative Medicine Solution "SELAC" and herbal (non-invasive)
Our experience in handling cases of coronary heart disease is by electrostatic therapy of SELAC (Sinusoidal Electro Acupressure) on the meridian points of the heart and pericardium, as well as the local point, providing an immediate improvement in chest pain (1x therapeutic chest pain diminished or disappeared altogether). While the intake of herbal ingredients is given in order to more quickly soften and erode arterial plaques and can then be circulated to the safe, so the treatment of coronary heart disease to be optimal.
Treatment is done within a week until two weeks is sufficient for the solution of cases of the coronary heart disease. Electrostatic therapy (SELAC) performed for 3 consecutive days (1x therapy per day), and resumes a week later for 1x therapy .
The advantage of this treatment method is holistic, and get rid of the blockage of arterial plaques, thus clogging of the arteries can be dissolution as well as effective, natural, and safe.



Solusi Penyakit Jantung Koroner dengan 
Pengobatan Alternatif (SELAC)

Penyakit Jantung Koroner
Penyakit Jantung Koroner adalah penyakit jantung yang berkaitan dengan hambatan yang terjadi secara bertahap dalam arteri koroner atau dinding-dinding arteri tersebut menyempit karena plak-plak. Kasus ini lebih banyak terjadi dibandingkan dengan jenis penyakit jantung lainnya.
Penyebabnya
Merokok, Kolesterol tinggi, usia tua, genetik, hipertensi dan diabetes
Gejalanya
Umumnya sering nyeri di dada kiri
Solusi Kedokteran  Modern (invasive)
Pasien yang datang dengan keluhan sakit dada, lebih cepat dan efisien bila dilakukan pemeriksaan CT Scan. Sehingga mudah melihat posisi arteri koroner yang menyumbat dan fungsi jantung.
Tindakan yang popular sebagai solusi adalah dengan menggunakan stent (ring) atau dengan operasi bypass arteri. Untuk satu atau dua penyumbatan arteri masih cocok bila menggunakan ring, namun bila tiga atau lebih penyumbatan arteri sudah tidak cocok lagi bila menggunakan ring, biasanya dilakukan operasi bypas arteri.
Walaupun operasi bypas arteri dan pelebaran arteri memberikan hasil yang cukup baik, namun tetap tidak menghilangkan persoalan dasar yaitu hilangnya plak pembuluh darah, sehingga resiko terjadinya penyumbatan arteri kembali di kemudian hari tetap ada.
Solusi Pengobatan Alternatif “SELAC” dan herbal (non invasive)
Pengalaman kami dalam menangani kasus jantung koroner yaitu dengan terapi elektrostatik SELAC (Sinusoidal Electro Acupressure) pada titik-titik meridian jantung dan pericardium, serta titik setempat, memberikan perbaikan langsung pada nyeri dada (1x terapi rasa nyeri dada berkurang atau hilang sama sekali). Sedangkan asupan ramuan herbal diberikan agar bisa lebih cepat melunakan serta menggerus plak-plak arteri dan kemudian bisa disirkulasikan dengan aman, sehingga pengobatan jantung koroner menjadi optimal.
Pengobatan dilakukan dalam seminggu s/d dua minggu sudah cukup untuk solusi kasus jantung koroner. Terapi elektrostatik (SELAC) dilakukan selama 3 hari berturut-turut (sehari 1x terapi), dan dilanjutkan lagi seminggu kemudian ( 1x terapi ).
Keuntungan metoda pengobatan ini adalah holistik, dan menyingkirkan sumbatan plak-plak arteri, sehingga penyumbatan dari beberapa arteri bisa disolusi sekaligus dengan efektif, alamiah, dan aman.

14 September, 2011

Gempur Kanker dengan Listrik Statis

OLEH YUNI IKAWATI
Kanker hingga kini menjadi pembunuh nomor satu di dunia dan Indonesia. Berbagai upaya medis ditempuh untuk menaklukkannya, salah satunya dengan listrik statis berdaya rendah. Dalam uji coba, teknik ini bisa menyembuhkan tiga kasus kanker stadium lanjut.
 
Kanker atau tumor terbentuk akibat mutasi gen yang tak terkendali sehingga menjadi sel yang tidak diperlukan tubuh. Pertumbuhan kanker dapat berlangsung beberapa bulan hingga tahunan.
Selama ini, kanker sangat sulit dibasmi karena mekanisme kerja molekulernya yang rumit sehingga mampu menyebar atau bermetastatis ke bagian tubuh lain.
Berbeda dari sel normal, sel kanker dapat terus tumbuh atau bereplikasi. Sel kanker juga mampu menginvasi jaringan di sekitarnya dan membentuk anak sebar.
Karena sifatnya itu, beberapa obat antikanker dikembangkan, antara lain berdasarkan aktivitas molekuler dari sel kanker itu.
Selain itu, pada terapi banyak dilakukan pengangkatan jaringan kanker dikombinasi dengan kemoterapi. Namun, cara ini sering kali menimbulkan efek samping negatif, antara lain matinya sel normal pada tubuh dan meningkatnya keganasan sel itu.
Tahun lalu, pakar tomografi, Warsito Purwo Taruno, menemukan cara baru menaklukkan kanker, yaitu dengan medan listrik statis yang disebut electrical capacitance volume tomography (ECVT).
Di bidang medis, aplikasi teknologi tomografi yang dikenalkan tahun 1972 masih sebatas untuk pencitraan organ tiga dimensi. Namun, teknik ini mencapai pengembangan yang signifikan di tangan Warsito, doktor lulusan Universitas Shizuoka, Jepang.
Dalam kurun waktu 10 tahun sejak 1988, tomografi dapat dikembangkan dari yang semula dua dimensi statis menjadi dinamis. Lalu, dalam program postdoktoral di Ohio University selama lima tahun hingga 2003, Warsito berhasil menciptakan tomografi tiga dimensi yang statis dan dinamis.
Kembali ke Tanah Air, mulai tahun 2010, Warsito, yang kini staf ahli khusus Menristek, menerapkannya untuk terapi kanker. Menurut dia, ECVT dapat membunuh sel kanker melalui pancaran listrik statis yang terpancar secara terus-menerus. Gelombang listrik ini dapat mengganggu proses pembelahan sel kanker hingga menghancurkannya.
Hal ini telah dibuktikan melalui penelitiannya di laboratorium Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Percobaan pada sel kanker menunjukkan, ECVT dapat mematikan 30 persen sel kanker dalam waktu tiga hari.
Uji terbatas
Tahap selanjutnya, Warsito merancang prototipe untuk terapi kanker payudara. Alat terapi kanker payudara terdiri dari satu set pakaian menyerupai baju senam atau kutang dan satu panel kontrol elektronik yang terhubung ke elektroda.
Dalam pakaian berbahan khusus ini dipasang dua kutub elektroda yang ditempatkan di antara lokasi tumor atau kanker yang menjadi target. Elektroda tersebut dialiri listrik oleh panel kontrol elektronik berupa kotak kecil yang berisi baterai.
Dalam kondisi aktif, elektroda positif di satu sisi akan memancarkan gelombang listrik magnet yang kemudian ditangkap elektroda negatif di sisi lainnya. Pancaran gelombang listrik ini membentuk medan listrik di antara dua katoda. Karena berada di antara dua kutub elektroda itu, kanker akan terpengaruh oleh medan listrik itu.
Apa yang terjadi jika tumor dipengaruhi gelombang listrik statis itu? "Gelombang listrik ini akan memengaruhi pembelahan kromosom sel. Akibatnya, sel tumor itu tidak membelah, malah hancur," ujarnya.
Sejak Mei 2010
Terapi kanker dengan sistem listrik statis mulai dikembangkan pada Mei 2010. Alat ini telah diterapkan pada Juni 2010 untuk terapi kanker payudara stadiun empat yang telah bermetastasis atau menyebar ke kelenjar limpa.
Pasien bersangkutan bahkan telah divonis hanya dapat bertahan selama dua tahun. Untuk menangani kanker, pasien harus menjalani kemoterapi sembilan kali dalam setahun. Terapi ini sangat memberatkan karena sekali perawatan menelan biaya hingga Rp 28 juta. Namun, dengan terapi listrik statis ini, dalam waktu sebulan hasilnya telah negatif.
Alat ini juga telah menyembuhkan pasien kanker nesofarink stadium tiga setelah menjalani perawatan selama tiga bulan. Untuk itu, dirancang penutup kepala dan wajah. Pasien kanker rahim stadium 2-3 juga dapat disembuhkan. Untuk pasien ini dibuat pakaian berelektroda berupa celana dalam.
Dengan menggunakan pakaian yang dilengkapi elektroda pemancar gelombang listrik itu, terapi listrik statis bisa terfokus. Listriknya menggunakan arus tak langsung dan berdaya rendah, hanya 9 volt, dan dengan frekuensi antara 50 kilohertz dan 5 megahertz.
Teknik ini memiliki kelebihan lain, yaitu kecepatan pemindaiannya hanya memakan waktu seperseratus detik.
Terapi dengan alat ini berlangsung selama 24 jam nonstop selama sebulan hingga tiga bulan. Adapun untuk pencegahan, pemakaiannya delapan jam sehari.
Uji klinis
Keberhasilan Warsito dan timnya di Edwar Technology menyembuhkan tiga kasus kanker itu mendapat sambutan dari India, yang menawarkan kerja sama dalam melakukan uji klinis di Negeri Gajah itu.
Untuk uji coba itu disediakan 1.000 relawan. Langkah ini akan mengarah pada perolehan sertifikat dari Food and Drug Agency (FDA). "Jika sertifikat ini dapat diperoleh, akan terbuka aplikasi sistem terapi kanker ini di seluruh dunia," ujarnya. Jika berhasil, tahun depan India memesan 100.000 unit.
Untuk memperoleh hasil yang optimal, menurut Warsito, harus dilakukan diagnosis kondisi tumor atau kanker, antara lain lokasi dan ukurannya. Dari hasil diagnosis itu baru didesain alat, posisi elektroda, dan komputasi optimal medan listrik yang akan dibangkitkan untuk mematikan kanker. Untuk itu, Warsito dan timnya tengah mengembangkan sistem diagnosis kanker dengan sistem yang sama berbasis tomografi.
Sumber : Kompas Cetak Jumat, 26 Agustus 2011

28 July, 2011

Kasus Fibromyalgia ( lanjutan )

Rabu 27 Juli 2011, jam 13.00, DM berkunjung  kembali untuk  konsultasi kesehatannya, sehubungan dengan fibromyalgia yang dideritanya. Dilaporkan oleh yang bersangkutan, bahwa sampai hari ini sudah tidak merasakan keluhan nyeri otot dan kaku-kaku, terutama  saat bangun tidur.  Aktifitas sehari-haripun sudah tidak ada keluhan, dan stamina tubuhpun baik.  Artinya, tidak terjadi kekambuhan penyakit, setelah menjalani proses terapi selama seminggu (28 Juni 2011 – 4 Juli 2011) yang lalu, alias pemulihan yang terjadi permanen. Alhamdulillah.

Kesimpulan : Proses terapi  Selac (sinusoidal electro acupressure) dan asupan obat tradisional (herbal), dalam waktu seminggu memberikan progress pemulihan untuk kasus Fibromyalgia, bisa diandalkan sebagai salah satu solusi kasus fibromyalgia, efektif, cepat, alamiah dan aman.